Tvkn1.com ll KABUPATEN BEKASI — Ruas Jalan KH Ma’mun Nawawi, salah satu jalan provinsi di Kabupaten Bekasi, mengalami kerusakan berat di sejumlah titik, terutama di wilayah Cibarusah dan Serang Baru. Lubang besar, permukaan bergelombang, serta aspal yang terkelupas mengubah jalur vital ini menjadi lintasan berisiko bagi pengguna jalan.
Pantauan di lapangan, Senin, (26/1/2026), menunjukkan kerusakan paling parah berada di sekitar jembatan flyover Tol Jakarta–Cikampek serta di dekat kediaman Kepala Desa Sukaragam H.Usup Ke’eng. Arus kendaraan melambat drastis, sementara pengendara sepeda motor kerap bermanuver mendadak untuk menghindari lubang jalan.
Jalan KH Ma’mun Nawawi merupakan salah satu urat nadi mobilitas warga dan aktivitas ekonomi di wilayah selatan Kabupaten Bekasi. Jalur ini dilalui kendaraan hampir tanpa jeda. Namun kondisi fisiknya justru mencerminkan lemahnya pemeliharaan infrastruktur.
Cuaca ekstrem kerap dijadikan alasan kerusakan. Namun fakta di lapangan menunjukkan kerusakan telah muncul sejak berbulan-bulan lalu, jauh sebelum puncak musim hujan. Perbaikan yang dilakukan pun bersifat tambal-sulam dan cepat kembali rusak.
Sejumlah warga menyebut lubang jalan dibiarkan terlalu lama tanpa penanganan serius. Dalam situasi darurat, sebagian warga bahkan menimbun lubang untuk mengurangi risiko kecelakaan.
Kerusakan jalan ini membuka pertanyaan tentang tata kelola anggaran pemeliharaan. Jalan provinsi berada di bawah kewenangan pemerintah provinsi, tetapi dampak kerusakan ditanggung langsung oleh masyarakat daerah. Ketika kerusakan dibiarkan, batas tanggung jawab antara pemerintah provinsi, pemerintah daerah, dan pihak terkait menjadi kabur.
Saat dikonfirmasi, pegawai pemeliharaan jalan Provinsi Jawa Barat, Zamzam, mengatakan bahwa persoalan kerusakan jalan tersebut telah dibahas dengan pihak pengelola Tol Jakarta–Cikampek. “Ada rencana perbaikan pada ruas jalan provinsi yang rusak,” ujarnya melalui sambungan telepon, Senin, (26/1/ 2026).
Namun Zamzam mengaku belum mengetahui jadwal maupun teknis pelaksanaan perbaikan. “Untuk teknis dan waktu pelaksanaan, pihak pengelola tol yang lebih mengetahui. Jika sudah ada kepastian, mereka akan menginformasikan kepada kami,” katanya.
Kerusakan Jalan KH Ma’mun Nawawi bukan sekadar persoalan teknis. Ia mencerminkan persoalan klasik pengelolaan infrastruktur publik, anggaran besar di atas kertas, tetapi dampaknya minim di lapangan. Jika dibiarkan, jalan rusak bukan lagi soal kenyamanan, melainkan soal keselamatan yang diabaikan.
Diedit oleh: Dedy Sukandi
Redaksi: Tvkn1.com

