TV1KN – CIbarusah, Kab. Bekasi || – Asa ribuan warga di pelosok Kecamatan Cibarusah untuk menikmati layanan air bersih yang prima nampaknya masih belum terlihat. Fasilitas pompa _booster_ milik Perumda Tirta Bhagasasi yang digadang-gadang menjadi solusi krisis air di wilayah tersebut, hingga kini justru tampak “mati suri” dan tak kunjung memberikan manfaat nyata bagi masyarakat.
Proyek yang menelan anggaran yang tidak sedikit ini sejatinya diproyeksikan untuk memutus rantai krisis air menahun. Namun, fakta di lapangan berbicara lain.
Bangunan _booster_ Cibarusah tersebut sempat terlihat terbengkalai dengan struktur besi yang mulai rapuh dan patah. Meski belakangan area sekitar mulai dirapikan dari kepungan ilalang, denyut operasional fasilitas ini masih belum terasa.
Keberadaan _booster_ ini sebenarnya memikul tugas teknis yang krusial: memompa tekanan distribusi air ke wilayah-wilayah sulit jangkau seperti Desa Ridomanah, Ridogalih, dan Sirnajati.
Selama ini, warga di tiga desa tersebut harus “mengalah” pada keadaan, bergantung pada pasokan air dari _booster_ Perumahan KSB Sukaragam di Kecamatan Serang Baru.
Jarak distribusi yang terlampau jauh membuat tekanan air loyo dan hanya menyisakan debit minimal ketika sampai di keran pelanggan.
Mangkraknya fasilitas ini pun menyingkap tabir lemahnya koordinasi internal di tubuh Perumda Tirta Bhagasasi. Kepala Cabang PDAM Cibarusah yang baru menjabat, Supriyadi, mengaku tidak mengantongi detail mengenai proyek tersebut sejak awal.
”_Saya baru menjabat beberapa bulan di sini, jadi belum mengetahui detail pembangunan booster tersebut,_” ungkap Supriyadi saat dikonfirmasi, Kamis (22/1/2026).
Enggan terjebak dalam polemik teknis, Supriyadi memilih melemparkan persoalan ini kepada pejabat terdahulu atau manajemen pusat. Menurutnya, pemahaman mendalam mengenai proyek tersebut bukan berada di mejanya saat ini.
“_Mungkin kepala cabang sebelumnya yang lebih mengetahui pembangunan ini, atau bisa langsung ke bagian teknis di pusat,_” cetusnya.
Hal senadapun diungkap Ganjar Munandar yang merupakan mantan Kepala Cabang PDAM Cibarusah, juga setali tiga uang. Meski mengonfirmasi mengetahui kondisi keadaan _booster Cibarusah_ tersebut, ia mengaku “buta” soal urusan perencanaan. Ia menegaskan bahwa urat nadi kebijakan dan desain teknis sepenuhnya dikendalikan oleh kantor pusat.
“_Untuk detail teknisnya, bagian teknis pusat yang lebih mengetahui_,” jelas Ganjar singkat.
Ketidaksinkronan antara perencanaan di tingkat pusat dengan eksekusi di lapangan ini kini menjadi sorotan tajam. Jika dibiarkan tanpa audit teknis dan perbaikan fungsi, _booster_ Cibarusah dikhawatirkan hanya akan menjadi “monumen” kegagalan infrastruktur yang membuang dana publik secara percuma.
Kini, bola panas ada di tangan manajemen pusat Perumda Tirta Bhagasasi. Di tengah minimnya kucuran air yang sampai ke rumah-rumah warga di pelosok Cibarusah, masyarakat hanya bisa menagih satu hal: transparansi kegagalan fungsi dan kepastian kapan _booster_ Cibarusah di Jalan Loji itu benar-benar menderu untuk mengalirkan hak mereka atas air bersih “tutup
Red tvkn1.com
